Tangis Dua Keraton: PB XIII Wafat, Yogyakarta Kirim Tanda Duka yang Mengharukan!


Kabar duka datang dari Surakarta. Raja PB XIII, pemimpin Kraton Surakarta, wafat Minggu pagi di RS Indriati Solobaru, Sukoharjo, pada usia 77 tahun.
Seiring berita tersebut tersebar, Kraton Yogyakarta segera menunjukkan penghormatan resmi.
Minggu sore, Kraton Yogyakarta menerima “Utusan Dalem” Surakarta yang menyampaikan kabar duka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Langkah ini menegaskan nilai kekerabatan dan koneksi adat antara kedua keraton besar di Jawa Surakarta dan Yogyakarta.
Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan protokoler, pengiriman utusan juga mengandung makna silaturahmi dan kontinuitas tradisi kerajaan.
Di Kraton Yogyakarta, suasana haru mewarnai hari-hari berikutnya. Sebagai ungkapan duka, gamelan tak dibunyikan dan pentas wisata budaya Srimanganti ditunda sementara. Hal ini menunjukkan bahwa penghormatan tidak hanya bersifat formal, namun juga dilaksanakan secara simbolis dalam aktivitas keraton.
Sementara itu, prosesi pemakaman PB XIII telah direncanakan berlangsung di Astana Raja‑raja Mataram Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari Rabu mendatang. Lokasi ini menjadi tempat peristirahatan raja-raja dari Dinasti Mataram Islam, termasuk raja-raja dari Surakarta dan Yogyakarta.
Secara keseluruhan, melalui pengiriman utusan dan penghentian sementara aktivitas budaya, terjadi perpaduan antara penghormatan formal dan adat yang kental.
Kejadian ini juga membuka refleksi: betapa tradisi kerajaan masih memiliki relevansi simbolik dalam masyarakat Jawa kontemporer, meskipun posisi politiknya telah berubah. Untuk para pecinta sejarah dan budaya Jawa, momen ini menjadi pengingat tentang kesinambungan dan kehormatan dalam tradisi keraton.
Dengan demikian, wafatnya PB XIII,bukan sekadar berita kepergian seorang raja, tetapi juga momentum bagi penguatan nilai-kultural di antara dua pusat tradisi Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.
Pengiriman utusan dari Kraton Surakarta ke Kraton Yogyakarta menegaskan bahwa di balik perubahan zaman, jalinan adat dan kekerabatan tetap hidup dan terjalin.

